Inovasi Teknologi PUPR, Selain Mempercepat Pembangunan Infrastruktur Juga Dapat Menekan Kebutuhan Biaya

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono Foto: Jembatan Apung di Cilacap.

Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menyatakan ada lima inovasi utama dalam akselerasi pembangunan infrastruktur, yakni kerangka hukum dan perundangan yang kondusif, inovasi pembiayaan dan pendanaan pembangunan infrastruktur, kepemimpinan yang kuat, koordinasi antar lembaga yang solid, dan juga penerapan hasil penelitian dan teknologi terbaru.
 
Terkait hasil penelitian dan teknologi, Kementerian PUPR telah menghasilkan lebih dari 25 teknologi di berbagai bidang, di antaranya bidang jalan dan jembatan.
 
“Melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), Kementerian PUPR telah menghasilkan lebih dari 25 teknologi bidang jalan dan jembatan yang mampu mendukung kebutuhan program peningkatan konektivitas,” kata Menteri Basuki beberapa waktu lalu.
 
Adapun Kepala Balitbang Kementerian PUPR, Danis H. Sumadilaga mengatakan, selain bermanfaat untuk membantu percepatan pembangunan infrastruktur, inovasi teknologi PUPR juga mendorong peningkatan pemanfaatan sumber daya lokal sehingga menggerakkan kehadiran pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah.
 
“Inovasi teknologi memberi nilai tambah di samping menekan kebutuhan biaya dan mempercepat pekerjaan. Sebagai contoh ketika kita membangun jalan Trans Papua dan Papua Barat, kita berusaha meneliti bagaimana memaksimalkan penggunaan material-material lokal di Papua Barat, salah satunya pemanfaatan batu kapur, sehingga tercipta teknologi yang bisa dikerjakan oleh masyarakat lokal,” kata Danis di Jakarta, Sabtu (5/8).
 
Menurutnya, penggunaan batu kapur sebagai bahan bangunan juga memiliki keunggulan dalam memperpanjang umur bangunan.
 
Selain itu, di sektor sumber daya air, ia mengungkapkan Balitbang Kementerian PUPR juga telah mengembangkan penggunaan teknologi beton pra cetak untuk saluran-saluran irigasi dengan standarisasi serta kualitas baik dengan harga yang lebih murah sehingga pekerjaan saluran irigasi bisa lebih cepat selesai.
 
“Ini sudah dilakukan hampir di seluruh saluran-saluran irigasi yang sekarang dikerjakan. Kita memilih teknologi yang bisa dikerjakan oleh masyarakat,” ungkapnya.
Rumah Instan Sederhana Sehat
 
Dalam mempercepat program sejuta rumah, Kementerian PUPR juga menggunakan beton pra cetak yang juga unggul dalam kecepatan dan kontinuitas proses produksi beton.
 
Beton pra cetak digunakan untuk pembangunan RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat), rumah susun, rekonstruksi sekolah sementara pasca bencana, seperti diterapkan di Pidie Jaya awal 2017 lalu, serta  pembangunan jalan dan jembatan.
 
Belum lama ini, Kementerian PUPR juga telah menggelar uji coba aspal plastik sepanjang 700 meter yang bertempat di Universitas Udayana, Bali. Pemanfaatan limbah plastik sebagai aspal tersebut merupakan salah satu solusi bagi permasalahan sampah plastik, dengan kebutuhan limbah plastik sebanyak 2,5 hingga 5 ton untuk setiap 1 kilometer jalan dengan lebar 7 meter.
 
Di bidang jembatan, Kementerian PUPR juga berhasil menggunakan teknologi Corrugated Mortarbusa Pusjatan (CMP) yang dicampur dengan baja gelombang, sehingga menghabiskan waktu lebih cepat 40 persen pada pembangunan fly over Antapani di Bandung dan menghemat biaya hingga 60 persen.
 
Kementerian PUPR melalui Balitbang juga telah berhasil membangun Jembatan Apung di Cilacap dengan panjang 47 meter. Jembatan Apung ini dikerjakan hanya dalam waktu kurang lebih enam bulan, menghabiskan anggaran sebesar Rp 2  miliar dengan rincian Rp 1,2 miliar untuk material dan sisanya untuk mobilisasi.
 
Jembatan tersebut menghubungkan Desa Ujung Alang dengan Desa Klaces yang merupakan ibukota Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap dan dapat dimanfaatkan warga khususnya untuk pejalan kaki.