BNPB Pimpin Penanganan Darurat Bencana Hidrometeorologi di Humbang Hasundutan, Situasi Mulai Terkendali

bnpb Foto: Dok: Istimewa.

Jakarta - Penanganan darurat bencana hidrometeorologi di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, semakin menunjukkan kemajuan sejak banjir bandang dan tanah longsor melanda wilayah tersebut. BNPB menjadi motor utama dalam upaya penanganan terpadu ini.

Atas arahan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, posko darurat langsung dibentuk di lapangan sepak bola Desa Panggugunan, yang kemudian menjadi pusat seluruh koordinasi dan pelayanan bagi warga terdampak.

Perwakilan BNPB, Direktur FPKP Nelwan Harahap, hadir langsung di lokasi untuk memastikan seluruh kebutuhan masyarakat terpenuhi. Ia mendampingi Bupati Humbang Hasundutan, Oloan Paniaran Nababan, dalam mengelola posko dan memantau operasi pencarian, pertolongan, dan distribusi bantuan.

BNPB memberikan dukungan menyeluruh, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar, pelayanan kesehatan, dapur umum, pendataan kaji cepat, hingga layanan pengaduan masyarakat.

Bahkan Nelwan secara khusus mengunjungi warga yang mengungsi di rumah kerabat mereka, menyerahkan bantuan sembako, dan mendengar langsung keluhan serta kebutuhan yang mendesak.

Bantuan logistik BNPB tahap pertama juga telah tiba dan mulai disalurkan ke warga. Dalam dukungan itu, BNPB mengirimkan 200 paket sembako, 200 paket makanan siap saji, tenda pengungsi, matras, velbed, selimut, hingga pompa alkon, genset, dan perahu polietilen untuk membantu mobilitas di area terdampak.

Semua bantuan ini langsung diarahkan untuk mempercepat pemulihan kebutuhan warga di titik-titik pengungsian.

Di sektor komunikasi darurat, BNPB bekerja sama dengan Diskominfo setempat memasang jaringan satelit Starlink di tiga titik, yakni di Desa Sihombu, Kantor Camat Pakkat, dan pos pengungsi Gereja HKBP Parbotihan.

Fasilitas ini dibuka 24 jam dan dapat digunakan masyarakat secara gratis, guna memperlancar koordinasi dan akses informasi di tengah kondisi darurat.

Upaya penanganan juga diperkuat oleh unsur daerah. Dinas Perhubungan bergerak cepat memasang lampu penerangan jalan di sekitar posko agar aktivitas malam hari lebih aman.

Sementara itu, Tagana Dinas Sosial menyiapkan permakanan dari dapur umum, memastikan warga mendapatkan konsumsi tiga kali sehari dengan gizi yang mencukupi.

Hingga Minggu (30/11) sore, data sementara menunjukkan enam warga meninggal dunia, dua masih dalam pencarian, sembilan mengalami luka-luka, dan sekitar 2.200 orang mengungsi, baik di posko maupun di rumah kerabat terdekat. Dampak kerusakan cukup luas, meliputi 31 desa di enam kecamatan.

Dua desa masih terisolir akibat akses yang tertutup material longsor. Kerusakan rumah mencapai ratusan unit, dan lahan pertanian seluas 768 hektare turut terdampak. Infrastruktur seperti jembatan dan jalan juga mengalami kerusakan parah, dengan puluhan titik amblas dan tertimbun longsor.

Upaya membuka jalur utama Pulo Godang, Pakkat, Barus berhasil dilakukan setelah BNPB dan tim gabungan mengerahkan empat alat berat. Meski jalur kini terbuka, pengawasan ketat tetap dilakukan, dan penutupan sementara diberlakukan apabila hujan turun demi keselamatan warga.

Pemandangan di lapangan cukup menyayat hati: material longsor menutup lahan pertanian, batu-batu besar berserakan, dan beberapa rumah termasuk rumah dua lantai hanya menyisakan bagian atap akibat hantaman material.

Dalam penanganan lanjutan, BNPB menekankan tiga prioritas: pemulihan akses yang terputus, pemenuhan kebutuhan dasar warga, dan penyediaan permakanan yang berkelanjutan.

BNPB juga telah meminta Badan Geologi untuk melakukan kajian wilayah rawan sebagai dasar rencana relokasi warga setelah masa tanggap darurat selesai.

Seluruh rangkaian upaya yang dilakukan menunjukkan bahwa penanganan darurat di Humbang Hasundutan berjalan semakin baik berkat sinergi kuat BNPB, pemerintah daerah, BPBD, TNI, Polri, instansi teknis, relawan, dan masyarakat.

Kerja bersama ini menjadi bukti nyata bahwa penanganan bencana dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan berfokus pada keselamatan warga.